Daripada kita hanya mementingkan diri kita sendiri, ada baiknya kita juga mementingkan orang lain, karena bisa jadi ketika kita berada di posisi susah, orang lain tersebutlah yang akan membantu kita.
Jadi, tadi malam saya habis menyaksikan film Train to busan garapan sutradara Sang-Ho Yeon, pastinya teman-teman sudah cukup familiar dengan film yang cukup hits di tahun 2016 ini. Menariknya, saya baru saja menyaksikannya sekarang,karena dulu ketika di tawarkan untuk nonton film ini saya enggan, bukan karena tidak suka dengan Gendre-nya, bukan karena filmnya jelek dll, akan tetapi alasan saya menolak karena ada kekwatiran dalam diri saya akan kecanduan dengan flm-film korea.. hehe memang terkesan Norak, iyaa..memang saya Norak kwwk.
Mungkin kali ini saya tidak akan panjang lebar menjelaskan terkait sinematogerapi, alur cerita, plot twist, cara bertutur film, Naskah dll. tetapi Yang mau saya sorot di sini yaitu terkait dengan moral value atau pesan moral filmnya. Sebebenarnya reaksi pertama saya sehabis menonton film ini yaitu speechless. saya merasa melihat diri saya sendiri di dalam film ini 😊. Anda jangan salah sangka dulu, maksud saya bukan kesana, bukan untuk menyama-nyamakan saya dengan gong yo atau choi woo-shik selaku actor di film ini 😂. tetapi, ke egoisan para pemain. saya merasa saya cukup egois sama seperti mereka, Betul gak? kek-nya sih betul yah saya egois.😁
Contoh Seperti Si bapak CEO yang diperankan kim eui-sung yang begitu menyebalkan , Ayah si anak kecil yang diperankan Gong yoo dll. saking menyebalkannya mereka saya sampai kesal sendiri, building caracter-nya ciamik sih.
Andaikan saja mereka sedkitit lebih peduli terhadap orang lain, saya percaya akan banyak nyawa yang terselamatkan.
Menyaksikan film ini, saya juga seolah-olah menyaksikan wajah Indonesia saat ini, di tengan wabah corona ini. Di mana banyak sekali orang-orang egois yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Anda bisa menyaksikannya di sekitar anda, di media social anda, tetapi yang terparah menurut saya seperti penimbunan masker,“Penolakan Mayat Covid 19, penimbunan oksigen” Innalillah, betapa kejamnya kita. Saya membayangkan menjadi keluarga korban. musibahnya double Kehilangan orang yang di sayang iya, kena stigma juga iya 😭. Semoga para korban di ampuni dan keluarga diberikan ketabahan. Amieen.
Menyaksikan film ini saya juga teringat dengan perkataan Syekh Ibnu Athaillah “Boleh Jadi seseorang akan mendapatkan pengalaman batin dalam penderitaan (atau dalam hal apapun), saat ia tak bisa mendapatkan dalam puasanya dan shalatnya” kadang hidayah, hikmah datang saat wabah seperti ini. keknya saya sudah fix bisa dikatakan sufi ya ahaha, maksudnya suka film. saat nonton film.
hikmah juga sering menghampiri contohnya saat saya ngobrol dengan teman, seperti di postingan saya tgl 28 okt kemaren. intinya ketika hikmah itu datang genggam, masukkan dalam hati, kalo bisa abadikan dalam tulisan agar anda bisa membacanya terus-menerus.
Kesimpulannya yang saya peroleh dalam film ini yaitu : jangan terlalu egois, saling bekerjasama di segala kondisi terutama di kondisi-kondisi saat ini, kadang kita juga harus berkorban untuk orang lain terkhusus untuk orang yang kita sayang, berikan kasih sayang yang tulus, kalo tidak ada ketulusan tidak mungkin kita akan berkorban. Sekian, takut kepanjangan 😁.
Jadi, apa yang kamu peroleh dari postingan ini? 😊
Yogyakarta, Sabtu 11 April 2020
Yogyakarta, Sabtu 11 April 2020

Komentar
Posting Komentar